banner 728x250

Wisata Hutan Mangrove Tatakalai, Surga di Utara Banggai Kepulauan

  • Bagikan

Catatan oleh : Irwan K Basir
KABAR LUWUK, Banggai Kepulauan – Kicau burung terdengar bersahutan sementara lainnya berterbangan, beberapa daun berjatuhan disertai gemericik air akibat kibasan sejumlah ekor ikan. Itu gambaran awal saat pertama kali menginjakan kaki ke wisata hutan mangrove Desa Tatakalai, Kecamatan Tinangkung Utara, Kabupaten Banggai Kepulauan. Hutan mangrove seluas kurang lebih 20 hektar itu kini telah dibuka untuk umum setelah Januari 2019 Pemerintah Desa Tatakalai menetapkan kawasan itu sebagai lokasi wisata andalan mereka. Memasuki lokasi wisata ini ibarat sebuah surga yang ada di utara Banggai Kepulauan.
Mencapai lokasi wisata hutan mangrove ini tidaklah sulit, akses jalan dari Salakan ibukota Kabupaten Banggai Kepulauan bisa dilalui kendaraan baik roda dua maupun roda empat yang langsung menuju Desa Tatakalai. Jarak dari Salakan ke Tatakalai sekira empat puluh kilometer yang bisa ditempuh dalam waktu 45 menit. Dipastikan selama perjalanan tidak bakal membosankan karena sepanjang jalan menuju Tatakalai banyak disuguhi pemandangan alam nan indah termasuk pesisir pantai dengan lautnya yang biru.
Abd Muis Ladani Kepala Desa Tatakalai yang ditemui media ini mengatakan, gagasan membuat kasawasan hutan mangrove yang ada didesa itu sebagai lokasi wisata merupakan hasil rembuk bersama masyarakat. Bahkan sejak jauh hari warga bersama aparat pemerintah desa telah menyiapkan dengan menjaga dan melestarikan hutan mangrove yang berbatasan langsung dengan sejumlah rumah penduduk itu. Dahulunya puluhan bahkan ratusan pohon bakau ditebangi namun belakangan warga sadar bahwa ada kekayaan yang mesti dijaga untuk generasi mendatang.
“Dulu ini pohon bakau hampir habis, sehingga warga mulai kesulitan mencari sejumlah kerang, kepiting dan ikan. Bahkan dimusim tertentu rumah warga terancam abrasi dan terpaan gelombang, hal itu kemudian menyadarkan masyarakat ada yang mesti dirubah yakni tetap menjaga hutan mangrove mereka tetap lestari. Hasilnya selain bisa dijadikan objek wisata, dilokasi ini ekosistemnya jadi semakin baik sehingga penghasilan warga bertambah,” terang Abd Muis Ladani.
Guna mempercantik lokasi wisata hutan mangrove, Pemerintah Desa Tatakalai membuatkan sejumlah titian berupa jembatang yang ditempatkan kedalam areal pepohonan bakau. Bahkan rencananya titian selebar satu meter itu bakal menjangkau hampir seluruh kawasan hutan mangrove itu sehingga pengunjung bisa puas menikmati keindahan hutan mangrove ditempat itu. Untuk masuk kelokasi wisata ini warga cukup merogoh kocek Rp10.000 perorang dimana warga bisa sepuasnya berfoto maupun berjalan diatas titian yang telah disediakan. Kedepan Pemdes Tatakalai berencana membuat sejumlah ornamen untuk dijadikan spot berfoto semisal ayunan maupun bentuk lainnya.

Baca Juga  Pemprov Sulteng Mendorong Pengembangan Usaha Industri Kecil Menengah


“Sudah dalam perencanaan kita menambah fasilitas yang ada dilokasi ini, harapannya bisa membuat pengunjung semakin banyak dan pastinya membelanjakan uang mereka di desa kita,” tambah Kades Tatakalai.
Buat para pehobby mancing khususnya metode casting, lokasi hutan wisata mangrove sangatlah tepat mengingat didalam lokasi itu terdapat sejumlah ikan yang menjadi incaran para angler. Bahkan penulis yang sempat menjajal lokasi itu memperoleh sambaran ikan baby GT, Mangrove Jack hingga Grouper. Hanya saja guna membuat betah pengunjung dilokasi itu mungkin perlu adanya sejumlah atraksi berupa kesenian daerah maupun kuliner khas setempat. Selain itu dibutuhkan juga tempat menginap agar pengunjung bisa menghabiskan satu atau dua hari dilokasi itu. *

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *