banner 728x250

Jokowi Waspadai Ancaman Varian Mu

  • Bagikan
banner 468x60

Meskipun kurva pandemi COVID-19 sudah mulai menurun di Indonesia, Presiden Joko Widodo meminta semua pihak untuk terus waspada karena munculnya hasil mutasibaru virus COVID-19, varian Mu, yang berpotensi menaikkan kembali jumlah kasus positif coro

KABAR LUWUK, JAKARTA — Presiden Joko Widodo mengingatkan seluruh jajarannya untuk tetap mewaspadai berbagai varian baru virus COVID-19 yang muncul seiring dengan tingkat penularan yang terus terjadi. Varian terbaru, varian Mu atau varian B1621 ,yang pertama kali ditemukan di Kolombia kini telah menyebar di 43 negara dan disebut oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masuk ke dalam kategori variant of interest (VOI) atau varian yang sedang dimonitor ketat. Pemerintah, katanya, bersiaga agar varian Mu tidak masuk ke Indonesia.

“Saya juga ingin perhatian kita semuanya yang berkaitan dengan perhubungan, mungkin Pak Menteri Perhubungan yang berkaitan dengan varian baru, varian Mu. Ini agar betul-betul kita lebih waspada dan detil jangan sampai ini merusak capaian yang sudah kita lakukan,” ungkap Jokowi dalam Rapat Terbatas di Istana Negara, Jakarta, Senin (6/9).

Baca Juga  Pesawat Rimbun Air Jatuh di Belantara Sugapa Papua, Tiga Orang Meninggal Dunia

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa virus COVID-19 tidak akan mungkin hilang total. Maka dari itu, yang bisa dilakukan oleh pemerintah adalah mengendalikan perebakan wabah virus tersebut agar jangan sampai memperburuk situasi pandemi di kemudian hari.

Jokowi menjelaskan berbagai perbaikan situasi pandemi yang telah dicapai sampai detik ini, di antaranya tingkat keterisian tempat tidur (bed occupancy ratio/BOR) bagi pasien COVID-19 di rumah sakit secara nasional sudah mencapai 21 persen, kemudian kasus aktif corona yang saat ini sudah berada di level 150 ribu, dari semula 500 ribuan. Jika penanganan pandemi konsisten dilakukan dengan baik di seluruh daerah, ia yakin pada akhir September nanti kasus aktif bisa berada di bawah 100 ribu.

“Berita-berita ini dulu penting, tapi sekarang jangan sampai informasi seperti ini, disalah mengertikan bahwa sudah boleh ini, sudah boleh itu, ini yang berbahaya. Oleh sebab itu saya minta rapat evaluasi mengenai daerah-daerah mana yang naik, daerah mana yang turun. Penting sekali sehingga perlu kita segera sikapi agar angka-angka yang terus menurun ini bisa kita tekan terus terutama kasus aktif,” tuturnya.

Baca Juga  Mesin Daur Ulang Rumahan

Apakah Varian Mu lebih Ganas dari Varian Delta?

Ia pun memastikan, berdasarkan data whole genom sequencing (WGS) per 6 September 2021 varian Mu belum ditemukan di Indonesia. Guna mencegah masuknya berbagai varian baru tersebut ke tanah air, pemerintah senantiasa melakukan berbagai pengetatan salah satunya dengan mewajibkan karantina bagi pelaku perjalanan internasional, selain uji pada saat kedatangan dan kepergian, serta persyaratan vaksinasi COVID-19.

“Pemerintah juga berusaha mencegah munculnya varian baru di dalam negeri melalui strategi vaksinasi serta berbagai kebijakan menyeluruh yang mampu menekan angka kasus. Tentunya hal ini hanya dapat berhasil jika dibarengi dengan peran aktif masyarakat yang tetap mempertahankan disiplin 3M dan divaksinasi,” tuturnya.

Varian Baru Berpotensi Menimbulkan Gelombang 3

Ahli Epidemiologi Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman mengungkapkan potensi terjadinya gelombang ketiga COVID-19 di Indonesia cukup besar. Hal ini dikarenakan, kurva pandemi khususnya di luar Jawa dan Bali masih belum mendatar. Selain itu, strategi penanganan pandemi yang kuat masih belum merata di seluruh Indonesia. Hal ini, katanya, diperparah dengan munculnya varian baru, seperti Mu katanya bisa memperburuk kondisi pandemi di Indonesia.

Baca Juga  PHM Uji Coba Pemancangan Pipa Pengeboran Buatan Produsen Nasional

“Di tambah kehadiran varian-varian baru Mu, itu juga berpotensi menimbulkan perburukan situasi pandemi di suatu negara seperti Indonesia dan menimbulkan gelombang tiga. Tapi varian delta tetap masih mendominasi karena penyebaran varian delta belum selesai. Mayoritas penduduk kita masih belum memiliki imunitas karena tingkat vaksinasi kita masih rendah , belum 50 persen, masih jauh. Jadi akan banyak, dan akan berkontribusi varian-varian baru ini dalam perburukan situasi pandemi di Indonesia,” ungkapnya kepada VOA.

Maka dari itu, ujar Dicky, dalam merespon banyaknya varian baru, dan potensi munculnya varian-varian baru di masa yang akan datang, pemerintah harus menguatkanstrategi penanganan pandemi COVID-19 seperti 3T (testing, tracing dan treatment), penerapan protokol kesehatan 5M secara disiplin dan perluasan serta percepatan vaksinasi COVID-19. ( Sumber VOA Indonesia ).**

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan
Silahkan nonaktifkan adblock anda untuk membaca konten kami.
Segarkan