banner 728x250

Persepsi dan Pentingnya Griya Hunian bagi Lansia

  • Bagikan
Alumni PhD Michigan State University memberikan penyadaran kepada masyarakat desa tentang pentingnya hak lansia. (Foto: Courtesy/Adhi Santika)

KABAR LUWUK, NASIONAL – Fasilitas tempat tinggal bagi lansia di AS secara garis besar bisa dibagi dua yaitu panti wreda mandiri (senior living) bagi lansia yang masih bisa hidup mandiri, dan panti wreda biasa (nursing home) bagi lansia yang perlu dukungan tenaga kesehatan secara intensif.

“Nursing home biasanya tempat di mana tidak ada keluarga yang bisa menjaga kita sebagai orang tua. Semua sibuk atau jauh dari tempat, jadi kita dititip di tempat penitipan orang tua.”  

Diaspora Indonesia Joseph Tobing mengibaratkan nursing home milik temannya di Michigan sebagai asrama dengan pembayaran yang berbeda-beda. Dua di antaranya dengan asuransi (long term care insurance) dan dana pemerintah, yang disebut medicare dan medicaid.   

CDC Prioritaskan Vaksin Bagi Pekerja Kesehatan, Penghuni Panti Wreda

Mengamati nursing home yang dikelola temannya dan mempunyai ibu mertua berusia lanjut, membuat Joseph sejak enam tahun lalu memutuskan mengajak mertua tinggal bersama keluarganya di Maryland.  

“Dia (ibu mertua) memang hidup di sini dan lebih tenang. Fasilitas semua ada, dekat semua,” katanya.

Konsep tinggal serumah dengan berbagai kelompok usia menjadi masalah “ruang hidup” dengan bertambahnya populasi yang cukup tinggi di Indonesia, menurut Hendra Jaya dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Ia mengungkapkan kebutuhan privasi yang meningkat dan individualisme akibat banyaknya tekanan sosial dan pekerjaan di perkotaan.   

Menurut dosen arsitektur itu, lansia secara psikologis akan kesulitan untuk dapat menikmati hari-hari mereka. Kekosongan itu, Hendra Jaya mengatakan, perlu diisi dan mendapat perhatian pemerintah atau organisasi sosial.  

Adhi Santika memberikan pencerahan sebagai upaya pengarusutamaan isu lansia kepada aparatur pemerintah Indonesia. (Foto: Dok Pribadi)

Selama pandemi virus corona, Prof. Sri Moertiningsih merasa prihatin dengan para lansia yang tinggal bersama tiga generasi dalam satu atap.  

“Itu yang bahaya dan sekarang ada 30% lansia Indonesia tinggal bersama anak cucunya. Kalau rumahnya besar, bersyukur. Kalau di perkotaan, di daerah yang padat area seperti di pusat kota di Tanah Abang. Itu yang rawan,” katanya. 

Pakar demografi dan lansia dari Universitas Indonesia itu menyatakan Indonesia sedang menuju aging population, di mana sekitar 10% penduduknya pada tahun 2022 adalah lansia berumur 60 tahun ke atas.  

Pandangan sama diungkapkan Dyah Larasati dari Tim Nasional Percepatan Penanggulan Kemiskinan (TNP2K). Ia merujuk ke data BPS.  

“Enam puluh tahun ke atas itu ada sekitar 9,9% atau sekitar 27 juta dari total 270 juta penduduk dan trennya terus meningkat. Dan ini yang memang mesti diantisipasi,” ujarnya.

Penyediaan hunian lansia adalah bentuk antisipasi. Di Indonesia, umumnya disebut panti. 

Persepsi dan Pentingnya Griya Hunian bagi Lansia

Pegiat dan pemerhati kelanjutusiaan, Adhi Santika mengkritisi persepsi yang tidak baik diterima oleh lansia sebagai residual grup yang tidak berdaya di Indonesia. Ia menyarankan istilah panti diganti dengan griya.   

“Karena punya dampak psikologi juga berbeda, kita ganti (panti) dengan griya, bangunan untuk tempat tinggal kan,” katanya.

Adhi Santika menuturkan hasil pengamatannya terhadap panti wreda ketika melanjutkan studi tahun 1980-an di Michigan. Ada tiga situasi, kata Adhi, yang mendasari lansia tinggal di griya, yaitu keputusan sendiri secara sukarela, keputusan pemerintah karena terlantar dan keputusan keluarga karena beberapa pertimbangan.  

Skywalk tempat kegiatan griya lansia berbayar di kawasan Lembang, Bandung Utara. (Foto: Courtesy/Adhi Santika)

Situasi itu, menurut Adhi, menjadi latar belakang pembuatan tipe griya, dan penyediaan fasilitas hunian lansia. Selain kebutuhan fisik dan non-fisik, praktisi yang aktif di Muhammadiyah senior care itu menekankan pentingnya peran pendamping (care giver). Ia menilai pendamping lansia tidak disiapkan dengan benar.    

“Yang penting dia (care giver) itu kadang kala pakai seragam saja. Dia training hanya beberapa hari atau beberapa minggu tapi tidak secara profesional,” tukasnya.

Efek COVID-19 masih terbawa sedikitnya hingga lima tahun mendatang. Sri Moertiningsih menjelaskan, kerentanan lansia terhadap penyakit tidak menular menjadi faktor komorbid terhadap COVID-19.     

“Sekarang lansia-lansia yang tadinya dikarantina di rumah, tidak bisa keluar, tidak berani naik transportasi umum, harus ada yang menemani. Yang menemani juga rentan kena COVID. Akhirnya rutinitas terhadap pelayanan kesehatan itu terhenti. Ini akan menambah beban,” tukasnya. [sumber:voaindonesia.com]

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *