banner 728x250

Kepsek SD GKLB Dua Sampaikan Syarat dan Ketentuan Untuk Pembelajaran Tatap Muka

  • Bagikan

Penulis : Ramly Zakaria
Editor : Imam Muslik

KABAR LUWUK, BANGGAI – Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas sudah diperkenankan untuk wilayah PPKM level 1-3. Sekolah tatap muka terbatas bisa dijalankan dengan aturan dan protokol kesehatan yang ketat.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) menyatakan, sekolah tatap muka sudah dapat dilaksanakan di jenjang PAUD sampai SMA. Selain dengan penerapan prokes ketat, orang tua juga berperan dalam keputusan sekolah tatap muka.

“Acuan kita adalah SKB 4 Menteri yang diterbitkan beberapa waktu lalu yang tidak membatasi jenjang sekolah dalam membuka PTM,” kata Lius Satolom yang merupakan Kepsek SD GKLB 2 Luwuk, melalui pesan WhatsApp Selasa (14/9/2021).

Baca Juga  Kabupaten Bangkep Segera Melaksanakan PTM Terbatas

Lius mengungkapkan jika ada beberapa kriteria syarat dan ketentuan yang wajib diperhatikan siswa, guru, dan orang tua jika ingin menerapkan sekolah tatap muka, untuk menghindari Jangan sampai sekolah meningkatkan risiko penularan COVID-19.

Beberapa syarat itu adalah memperhatikan jaga jarak minimal 1,5 meter dan maksimal 18 peserta didik per kelas, sekitar maksimal 50%. Jumlah hari dan jam pembelajaran tatap muka terbatas dengan pembagian rombongan belajar (shift) yang dapat ditentukan oleh satuan pendidikan dengan tetap mengutamakan kesehatan dan keselamatan warga satuan pendidikan.

Lanjut Lius Satolom jika Guru dan murid wajib menggunakan masker yang menutupi hidung dan mulut sampai dagu, cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir atau cairan pembersih tangan (hand sanitizer), dan tidak melakukan kontak fisik seperti bersalaman dan cium tangan. Baik guru dan murid harus dalam kondisi sehat saat menjalankan PTM terbatas.

Baca Juga  Dinas Pendidikan Kabupaten Banggai Kirimkan Surat Rekomendasi Pembelajaran Tatap Muka

“Kegiatan yang berpotensi menjadi kerumunan tidak diperbolehkan terjadi di satuan pendidikan, seperti jajan di kantin, kegiatan olahraga dan ekstrakurikuler, orang tua menunggu peserta didik, istirahat di luar kelas, pertemuan orang tua-peserta didik, pengenalan lingkungan satuan pendidikan, dan sebagainya,” Imbau Lius. ( RZ).

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *