< IMIP

Ancaman Kemewahan Pada Bangunan Asrama Mahasiswa Balut di Gorontalo

KABAR LUWUK, GORONTALO – Niatan baik Pemerintah Banggai Laut memfasilitasi para mahasiswanya yang berada di luar daerah berupa asrama patut diapresiasi. Hanya saja ada ancaman tersembunyi yang bisa membahayakan para mahasiswa pada asrama yang dibangun di kompleks Mufidah, Kelurahan Limba U1, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo. Berdasarkan informasi yang diterima media ini menyebutkan bangunan dua lantai yang dibangun melalui anggaran Dana Alokasi Umum (DAU) Tahun 2019 senilai Rp2,2 miliar itu struktur pondasinya banyak yang tidak sesuai RAB sehingga di khawatirkan pada suatu saat nanti bisa mencelakakan para penghuninya.

Menurut sumber, pembangunan poer plat tipe atau kaki cakar ayam seharusnya menggunakan besi yang banyak sehingga kuat menopang daya beban bangunan lantai dua berisi delapan kamar masing-masing berukuran 4×4 meter itu. Hanya saja pada fakta lapangan item pekerjaan poer plat sub pembesian ditemukan adanya pengerjaan yang tidak sesuai yang digunakan maupun jarak behel dan ikatan antar tiang.

 

“Memang secara kasat mata bangunan itu tidak bermasalah, namun jika ditelisik lebih dalam maka ada pekerjaan poer plat item pembesian yang mesti diperhatikan. Jika tidak maka suatu saat nanti ada guncangan kecil (gempa-red) maka bangunan itu akan mengalami kegagalan struktur,” kata sumber dan konsultan meminta namanya tidak dimediakan.

Kegagalan struktur yang di maksud sumber yakni terjadinya keretakan dinding bangunan  atau dasar pondasi bangunan dan terparah bisa saja bangunan dua lantai ini ambruk karena kaki-kaki bangunan tidak mampu memikul beban bangunan dua lantai.

“Setahu saya besi yang harus di gunakan itu harus rapat bukan besi jarang-jarang, seharusnya jika mau kuat dan tahan lama maka bangunan dua lantai itu harus di bangun dengan besi yang rapat sesuai RAB,” satu hal ini yang perlu dicatat dan jadi kunci pemeriksaan.

Proyek yang dikerjakan oleh CV Tulus Mulia dengan nilai kontrak Rp2.225.423.000 ini beberapa waktu lalu telah dinyatakan selesai dan telah dilaksanakan serah terima barang atau Final Hand Over dari kontraktor pelaksana kepada pemerintah Kabupaten Banggai Laut. Hanya saja aparat penegak hukum dalam hal ini kejaksaan dan kepolisian di wilayah Provinsi Gorontalo dan Kabupaten Banggai Laut harus melakukan pemeriksaan detail menggunakan tenaga ahli pihak ketiga agar lebih netral. Kejaksaan Negeri Banggai Laut dan Kejaksaan Provinsi Gorontalo harus teliti memeriksa hasil dokumentasi pekerjaan dan apa yang tertuang dalam RAB.

Terpisah Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), Ipul yang dimintai keterangannya mengatakan, dirinya merupakan PPTK pada dua proyek pembangunan asrama mahasiswa Balut yakni di Palu dan di Gorontalo. Untuk pembangunan asrama mahasiswa Balut di Gorontalo kata Ipul, sudah sesuai dan semua telah diselesaikan dengan baik sebagaimana yang tertuang dalam kontrak.

“Kami mengacu pada dokumen dan volume kontrak dan rencana anggaran, jika kemudian ada pihak yang menuntut atau keberatan kita siap mempertanggungjawabkannya. Hasil FHO sudah sesuai volume kontrak. Semua dikerjakan profesional dan diawasi oleh ahli baik dari dinas maupun pelaksananya,” kata Ipul.

Terkait tidak tercantumnya nama konsultan perencana dan konsultan pengawas pada papan proyek kata Ipul, disebabkan karena kontrak kerja telah terbit terlebih dahulu kemudian menyusul kontrak pengawas. Sehingga kontraktor pada saat itu hanya mencantumkan nama kontraktor pelaksana pada papan proyeknya.

“Untuk volume pekerjaan sudah sesuai bahkan melebihi, salah satu contohnya kontraktor menambahkan pengerjaan akrilik yang disumbangkan pada pekerjaan itu. Nilainya mencapai dua puluh jutaan kalau tidak salah,” jelas Ipul.

Asrama yang terletak di kompleks Mufidah Kota Gorontalo ini, dirancang dua lantai pada masing-masing lantai berisi  8 kamar berukuran 4 × 4 meter. Selain kamar tidur, di gedung baru ini disediakan pula ruang rapat bagi mahasiswa. Di belakangnya tersedia dua buah dapur, serta dua buah kamar kecil, baik lantai atas maupun lantai bawah. Dengan rancangan ini, asrama diprediksi mampu menampung hingga 64 orang mahasiswa. Sebab menurut hitungannya, ukuran tiap-tiap kamar sebesar 4 × 4 meter, bisa dihuni hingga empat mahasiswa.

Sejumlah pihak berkeinginan, sebelum bangunan itu ditempati terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan oleh aparat penegak hukum dengan cara memeriksa dokumentasi  dan pekerjaan yang sudah di serahkan pihak ke tiga ke dinas terkait. Jika kemudian hari terjadi hal-hal yang tidak diinginkan maka telah diketahui bahwa pembangunan asrama itu memang tidak dirancang dan dibangun sesuai standar kontruksi. (IKB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *